PAMEKASAN. Dana penggelaran acara Gebyar Batik Pamekasan (GBP) untuk tahun 2022 menelan anggaran yang cukup fantastis. Yakni menelan anggaran Rp. 1,5 Miliar.
Pada tahun 2022, acara Gebyar Batik Pamekasan merupakan acara yang paling banyak menelan anggaran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 2020 Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan mengucurkan dana sebesar Rp 194.477.400,00 untuk acara acara gebyar Batik Pamekasan yang digelar di Semarang.
Tahun berikutnya pada tahun 2021 menelan anggaran sebesar Rp 162.500.000,00 yang digelar di kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.
Pada tahun 2022 ini, penggelaran tahunan dengan anggaran fantastis ini akan digelar di enam titik yang berbeda. Yakni di pulau Jawa-Bali.
Keenan lokasi itu yakni kabupaten Malang, Tuban, Kediri, Probolinggo, Jember, dan terakhir Bali yang akan dimulai pada 18 maret mendatang.
Untuk acara pertama di kabupaten Malang, Pemkab Pamekasan melalui Disperindag Pamekasan sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp. 200.000.000,00. Sedangkan untuk acara yang kedua di Tuban Rp. 150.000.000,00 yang sudah dianggarkan.
Achmad Sjaifuddin Kepala Disperindag Pamekasan mengatakan, acara gebyar batik untuk mendongkrak penjualan batik khas Pamekasan.
“Pagelaran fashion batik di enam titik akan melibatkan lima desainer profesional,” katanya.
Dari tahun ke tahun, perhelatan acara Gebyar Batik Pamekasan selalu mendapat sororti dari berbagai pihak, baik dari pihak legislatif, aktivis dan pelaku batik sendiri yang ada di kabupaten Pamekasan.
Sorotan itu disampaikan, karena menilai acara tersebut dinilai tidak menguntungkan para pengusaha batik di Kabupaten Pamekasan. dan menghabiskan anggaran yang cukup tinggi setiap tahunnya.
Pada tahun 2020, Abdus Somad pengusaha Batik KaDe di Pamekasan menilai acara gebyar batik di Semarang tidak memberikan keuntungan terhadap pengusaha, lantaran perputaran uang terjadi di kota tersebut.
“Kalau ditaruh di Pamekasan, maka orang luar akan beli batik di Pamekasan dan uang akan berputar di Pamekasan,” ungkap Abdus Somad, Rabu (9/12/2020).
Pada tahun berikutnya, beberapa aktivis dan pegiat sosial juga mengkritisi penggelaran gebyar batik di kabupaten Banyuwangi.