Di era modern seperti sekarang, hampir semua aspek kehidupan manusia berhubungan dengan uang. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga hiburan, semua membutuhkan kemampuan mengelola keuangan yang baik. Namun ironisnya, di sekolah maupun kampus, pelajaran tentang uang nyaris tidak pernah masuk dalam kurikulum resmi. Kita diajari matematika, fisika, sejarah, bahkan bahasa asing, tetapi tidak diajari bagaimana mengatur keuangan pribadi, menabung dengan benar, atau memahami investasi. Padahal, keterampilan finansial merupakan kunci utama untuk mencapai kebebasan finansial dan hidup yang sejahtera.
Mengajarkan tentang uang di sekolah dan kampus bukan berarti menjadikan siswa hanya berpikir materialistis. Justru sebaliknya, pendidikan finansial adalah bentuk bekal hidup nyata agar generasi muda tidak terjebak pada kesalahan-kesalahan klasik seperti terlilit utang konsumtif, salah memilih instrumen keuangan, atau tidak memiliki tabungan darurat. Pengetahuan ini dapat membantu mereka memandang uang bukan sebagai tujuan utama hidup, melainkan sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan, kemandirian, dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.
Jika pelajaran tentang uang masuk ke kurikulum, siswa dapat diperkenalkan pada konsep dasar seperti cara menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, pentingnya menabung, hingga memahami inflasi. Ketika mereka beranjak ke perguruan tinggi, materi bisa ditingkatkan dengan pembahasan investasi, literasi perbankan, manajemen risiko, serta cara membangun usaha. Dengan begitu, sejak dini mereka terbiasa berpikir jangka panjang dan tidak hanya terpaku pada pola “sekolah–kuliah–kerja” yang selama ini mendominasi sistem pendidikan.






