Dalam peninjauannya, Menko AHY mendapati satu ruas jalan vital yang amblas dan terputus: jalur penghubung Bener Meriah–Bireuen, yang merupakan akses penting bagi mobilitas warga dan distribusi barang. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah titik lainnya sehingga menghambat transportasi darat dan distribusi bantuan.
“Ini adalah jalur vital, bukan hanya bagi aktivitas harian warga, melainkan juga distribusi barang. Karena itu, salah satu prioritas kami adalah memastikan akses ini segera dipulihkan—setidaknya secara darurat agar kembali dapat digunakan,” tegasnya.
Penanganan infrastruktur darurat, lanjut Menko AHY, menjadi prioritas utama. Ia mendorong percepatan mobilisasi alat berat melalui koordinasi lintas pemerintah, termasuk bersama Kementerian PU, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten.
Ia menekankan pentingnya gerak cepat dan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dalam membuka kembali akses secara menyeluruh. Menko AHY juga menyampaikan bahwa Menteri Transmigrasi turut hadir untuk memperkuat koordinasi lapangan, khususnya terkait wilayah transmigrasi yang turut terdampak.
Selain memprioritaskan pemulihan akses darat, Menko AHY menekankan pentingnya suplai logistik yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa bantuan tidak boleh berhenti pada penyaluran tahap pertama.






