Mahfud menceritakan awal mula menjadi santri. Kala itu ayahnya menjadi seorang aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas di kecamatan setempat. Ayahnya memasrahkan kepada Kiai Mardiyan yakni pengasuh sekaligus pendiri pondok pesantren untuk belajar agama.
“Waktu itu santri yang belajar di sini masih puluhan tidak sampai ratusan. Mengetahui saya anak pejabat, saya disini diperlakukan beda dengan santri lain,” ujarnya.
Perlakuan berbeda itu dirasakan Mahfud ketika sang kiai hendak sarapan di pagi hari, dirinya dipanggil untuk makan bersama. Sementara santri lain makan dengan cara memasak sendiri.
Dirinya tidak bisa membayangkan betapa banyak pengalaman dan pesan moral sang kiai yang dirasakan saat ini cukup berarti.






