“Setiap sore Farel tidak pernah absen latihan, meskipun hujan atau capek sepulang sekolah. Kami tahu kami bukan siapa-siapa, tapi kami yakin Tuhan adil kepada yang berusaha,” ujar Ahmadi, sang ayah yang sehari-hari menjajakan jamu keliling.
Perjalanan Farel menuju Bhayangkara FC bukan tanpa rintangan. Minimnya fasilitas latihan, keterbatasan ekonomi keluarga, hingga jauhnya lokasi seleksi tidak menyurutkan tekadnya. Dengan semangat membara, ia menembus batas-batas itu, membawa nama Pamekasan dan Madura ke panggung yang lebih besar.






