Ismail berharap penghargaan tersebut tidak sekadar menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga motivasi untuk terus meningkatkan pengabdian serta mendorong generasi muda Nahdliyin agar berani mengambil peran di berbagai bidang.
“Mudah-mudahan ini menjadi motivasi untuk saya pribadi dan juga teman-teman generasi muda Nahdliyin,” imbuhnya.
Di balik jabatan strategis yang kini diembannya, Ismail memiliki perjalanan politik yang tidak singkat. Kepercayaan masyarakat hingga mengantarkannya menjadi pimpinan DPRD Pamekasan dibangun melalui proses panjang, kerja keras, dan pendekatan langsung kepada masyarakat.
Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut mengenang perjuangannya ketika pertama kali memutuskan terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Saat itu, ia harus bekerja keras memperkenalkan diri sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat. Berbagai wilayah didatanginya, mulai dari pasar hingga desa-desa.
“Bahkan awal-awal maju jadi caleg, saya turun berkampanye keliling ke pasar-pasar, ke desa-desa,” kenangnya.
Perjuangan itu semakin menantang karena Ismail bukan orang asli Pamekasan. Ia lahir di Kalimantan dan datang ke Pamekasan untuk menempuh pendidikan tinggi di UIN Madura, yang ketika itu masih bernama STAIN Pamekasan.






