Ia menekankan bahwa setiap pengurus NU telah mengambil baiat perjuangan untuk berjihad di jalan Nahdlatul Ulama. Karena itu, para pengurus diminta memiliki kesiapan lahir dan batin dalam melayani masyarakat tanpa mengedepankan kepentingan pribadi.
“Kita telah mengambil baiat berat untuk berjihad di atas jalan Nahdlatul Ulama (bil-jihādi ‘alā tharīqati Nahdlatil Ulama). Sesuai wasiat paman saya, KH Mustofa Bisri, pengurus NU itu tidak berhak mengeluh; tugas kita justru menerima dan menyelesaikan keluhan warga,” ujar Gus Yahya.
Dalam pidatonya, Gus Yahya juga mengingatkan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks harus dihadapi dengan keteguhan spiritual dan kekuatan organisasi. Ia mengutip pesan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, tentang pentingnya ketulusan dalam perjuangan.
“Dunia hari ini penuh dinamika dan ujian. Namun, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa segala fitnah dan kesempitan adalah ujian untuk menyaring siapa yang benar-benar tulus berjuang dan siapa yang hanya mencari kenyamanan,” katanya.
Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, Gus Yahya mendorong seluruh struktur NU untuk terus melakukan tajdid atau pembaruan, terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penguatan program-program tersebut tidak boleh menghilangkan ruh spiritualitas yang menjadi ciri utama NU.






