“Kenapa kita memberikan penghormatan dan hadiah kepada guru ngaji berupa umroh? Karena pengandiannya di masyarakat luar biasa, ada orang meninggal yang dipanggil pertama guru ngaji, yang mengajarkan solat guru ngaji, tetapi setelah jadi orang terkadang lupa kepada guru ngajinya,” ungkapnya.
Bupati murah senyum ini melanjutkan, pergeseran kepedulian masyarakat kepada guru ngaji saat ini menurun. Sebelum perusahaan listrik negara (PLN) masuk ke Pamekasan, santri membawa minyak tanah kepada guru agar aktifitas mengaji di surau tetap berjalan, namun setelah listrik masuk hingga desa-desa tidak ada lagi kepedulian santri untuk membayar tagihan listrik guru ngaji, serta beberapa pergeseran-pergeseran lainnya.
Oleh karena itu, bupati dengan sederet prestasi ini menyampaikan, pihaknya akan melakukan pembelaan kepada guru ngaji, salah satunya dengan cara mengumrohkan mereka ke tanah suci Mekkah. Harapannya, para guru ngaji mendoakan Pamekasan menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur.






