“Dalam aspek pembentukan karakter, penguatan budaya “ondheghe bahsa” atau penggunaan Bahasa Madura yang santun seperti “Engghi-Bhenten” dinilai penting untuk menginternalisasi program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” atau 7 Habits. Pendekatan tersebut diyakini mampu membangun karakter siswa berbasis nilai budaya lokal,” ungkapnya.
Tak hanya itu, doktor muda itu juga merekomendasikan digitalisasi materi pembelajaran melalui pemanfaatan cerita rakyat Madura menjadi media digital, animasi, hingga game edukatif guna meningkatkan kreativitas dan literasi koding siswa.
Kemudian, dalam bidang peningkatan mutu tenaga pendidik, Dr. Moh. Zayyadi mengusulkan penyusunan Uji Kompetensi Berbahasa Madura (UKBM) bagi guru sebagai instrumen evaluasi formal kemampuan kebahasaan secara ilmiah dan terstandar.
“Dalam persoalan linieritas guru muatan lokal, kita mendorong Kemendikdasmen membuka jalur afirmasi dan rekognisi bagi guru non-linier yang selama ini mengajar Bahasa Madura,” ujarnya.
Sebagai langkah jangka panjang, FKIP Universitas Madura juga berharap Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membuka nomenklatur khusus Bahasa Madura agar perguruan tinggi daerah dapat secara resmi membuka Program Studi Pendidikan Bahasa Madura.






