Ketum PBNU Silaturahmi ke Ponpes Al Hamidy Banyuanyar Pamekasan

  • Bagikan
Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersama KHR Muhammad Rofi’i Baidhowi pengasuh pesantren Al Hamidy, Banyuanyar, Pamekasan saat melakukan silaturahmi pada Selasa malam (23/9/2025).

PAMEKASAN CHANNEL. Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Al Hamidy, Banyuanyar di Desa Potoan Daja, Kec. Palengaan, Kab. Pamekasan pada Selasa malam (23/9/2025).

Kunjungan ini menjadi momentum penuh kehangatan sekaligus penghormatan kepada salah satu pesantren sepuh di wilayah Madura.

“Alhamdulillah, kami bersilaturahmi di salah satu pesantren sepuh di Pamekasan, Ponpes Al Hamidy, Banyuanyar,” ujar KH Yahya Cholil Staquf.

BACA JUGA :  IAIN Madura Buka Layanan Pengaduan Ketidaksinkronan Nomer Ijazah, Target Tuntas Sebulan

Rombongan PBNU disambut langsung oleh pengasuh pesantren, KHR Muhammad Rofi’i Baidhowi, sosok kiai yang dikenal tenang, alim, serta teguh dalam pendirian.

Kehangatan tuan rumah semakin terasa ketika perbincangan santai dan guyonan khas Pamekasan turut mengiringi suasana silaturahmi.

Selain jamuan penuh keramahan, KH Yahya menerima sebuah karya berharga berupa buku Sejarah Bassra: Potret Perjuangan Ulama Madura. Buku itu diberikan langsung oleh KHR Muhammad Rofi’i yang saat ini menjabat sebagai Ketua Bassra (Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura).

BACA JUGA :  Percepat Vaksinasi, PGRI Pamekasan Gelar Suntik Vaksin untuk Siswa dan Guru

“Selain disangoni doa, kami menerima buku berjudul Sejarah Bassra: Potret Perjuangan Ulama Madura. Buku ini menjadi pengingat perjuangan para ulama Madura yang tak kenal lelah dalam menjaga agama dan umat,” ungkap Gus Yahya.

Tak hanya itu, KH Yahya juga diberi kesempatan memberikan “tapak asmo” di sebuah lonceng kuno yang menyimpan kisah sejarah.

BACA JUGA :  Road Race Gagal, Bukti Disporapar Pamekasan Tidak Serius Urus Event Hari Jadi ke 492

Lonceng itu dulunya adalah bom peninggalan penjajah yang mendarat di madrasah bersejarah, namun tak meledak. Kini, benda tersebut menjadi simbol keteguhan pesantren dalam menghadapi ujian zaman.

“Pesantren Al Hamidy adalah bukti nyata bagaimana lembaga pendidikan Islam di Madura terus melahirkan generasi yang bermanfaat bagi umat. Seperti nama daerahnya, pesantren ini tak letih menabur manfaat dan kebaikan,” tutupnya.

Baca berita lainnya di Google News atau langsung ke halaman Indeks
  • Bagikan