“Saya curiga di sana tidak memiliki ahli gizi sehingga tidak punya aturan yang jelas soal porsinya. Apalagi saat dihitung menu yang diberikan tersebut tak sesuai dengan anggaran yang ada,” ujar Ahmad Kusairi.
Ia juga menyoroti MBG yang dibungkus plastik. Kusairi menduga bahwa program ini hanya dijadikan bancakan bisnis oleh penyedia.
“MBG dibungkus plastik. Ini tidak wajar untuk MBG siswa,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Lapangan SPPG Ibnu Bachir Banyupelle, Moh. Slamet, menyebut bahwa penyajian penggunaan plastik hanya berlaku untuk menu keringan.






