Dear Pejabat ; Kejujuran yang Dilarang Berbohong
Di negeri spanduk dan baliho, kata-kata sering lebih jujur daripada rapat resmi. Di sana seorang pejabat berdiri— dengan dasi berkilau, jas mahal, dan senyum yang siap digandakan oleh kamera.
Pejabat, kau bersumpah di atas kitab, namun hafal betul jalan memutar. Di ruang berpendingin itu, kebenaran kerap dianggap gangguan kinerja.
“Tak boleh berbohong,” kataku—seperti rakyat yang kau pimpin ini.
Sebagai seorang jurnalis. Tugas penting : mengonfirmasi. Mencari, memeriksa, mengolah, lalu menulis sebelum berita dilepaskan ke publik. Tak mudah, bukan?
Suatu hari, aku bertemu dengan kasus yang diduga menyeret seorang pejabat—masih sebatas dugaan dalam sebuah peristiwa. Namanya ramai di linimasa, perilakunya ditafsirkan tak layak bagi pelayan publik.
“Izin, Pak. Kami hendak mengonfirmasi pemberitaan yang diduga menyeret nama Bapak, apakah itu benar bapak, bila tidak benar kami butuh jawaban,” begitu kira-kira pertanyaanku.
Namun yang kuterima hanyalah sunyi. Tak satu kata pun keluar, seolah kebenaran bisa dipadamkan dengan memalingkan wajah.
Padahal, bila tak benar, bukankah cukup diluruskan? Apa sulitnya menjawab, apa ruginya memberi penjelasan?
Berita itu terbit. Riuh semakin menggema. Dan aku kembali bertanya pada diriku: apa salah seorang jurnalis meminta kejujuran?
Aku bukan penjahat, bukan perampok, bukan pengganggu negara. Aku hanya menjalankan tugas: mengonfirmasi, mengonfirmasi, dan mengonfirmasi.
Lalu tiba-tiba, pejabat itu muncul dengan suara lantang, membawa niat melapor, berdiri di atas klaim: “Tak pernah ada konfirmasi.”
Dear pejabat, sedikit kebohongan tetaplah kebohongan.
Kami tahu bohong itu dilarang, tapi lebih terlarang lagi memiskinkan harapan dengan kalimat yang terdengar mulia.
Aku percaya, negeri ini bukan runtuh oleh dusta, melainkan oleh kejujuran yang tak pernah diucapkan.
Dear pejabat, sekeras apa pun pertanyaan kami, itu bukan intervensi, melainkan upaya menjaga berita tetap berimbang.
Selamat atas labelmu sebagai wakil rakyat. Semoga suatu hari, kejujuran tak lagi harus dicari—cukup dijawab.
Satire,
Idrus Ali : Anggota Jurnalis Center Pamekasan (JCP).






