Bagi beliau, naskah tersebut sangat istimewa sehingga beliau kurasi dan sunting sendiri dengan sangat telaten. Buku itu bukan sekadar kompilasi akademik, melainkan refleksi dari semangat beliau dalam membimbing mahasiswa menulis dengan baik dan menjadikan karya mereka bermanfaat luas.
Ironis dan sekaligus menggetarkan, buku tersebut rampung dicetak tepat bersamaan dengan kabar kepergian beliau. Seolah menjadi penanda, bahwa semangat Prof. Kosim adalah pesan moral yang dalam: “jangan pernah berhenti berkarya hingga ajal menjemput. karyamu akan membuatmu kekal meski jasad sudah terkubur dalam tanah.”
Duta Media Publishing, penerbit langganan beliau, menjadi saksi akan komitmen beliau di dunia literasi. Naskah-naskah yang beliau kirim selalu rapi, minim revisi, dan sarat makna. Nyaris tidak pernah diedit ulang. Beliau sangat teliti dan tahu betul apa yang ingin beliau sampaikan. Ini menjadi bukti dedikasi dan kedisiplinan beliau di bidang literasi, yang tidak semua akademisi mampu teladani.
Kini, Prof. Kosim telah tiada. Namun karya-karyanya, dedikasinya, dan keteladanan hidupnya akan terus hidup dalam ingatan dan tindakan generasi setelahnya. Ia membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir bagi mereka yang hidup melalui ilmu dan amal. Kita kehilangan sosoknya, tapi tidak kehilangan warisan intelektualnya.
Kini, Prof. Kosim telah tiada. Namun karya-karyanya, dedikasinya, dan keteladanan hidupnya akan terus hidup dalam ingatan dan tindakan generasi setelahnya.
Ia membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir bagi mereka yang hidup melalui ilmu dan amal. Kita kehilangan sosoknya, tapi tidak kehilangan warisan intelektualnya.






