Ia juga menekankan pentingnya mitigasi yang dilakukan sejak dini agar dampak bencana tidak semakin parah. Menko AHY menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur berkelanjutan membutuhkan kontribusi akademisi serta kemitraan strategis antara pemerintah dan kampus.
“Anggaran rehabilitasi biasanya lebih besar dibandingkan anggaran untuk mengantisipasinya. Jangan sampai terjadi dulu bencana, baru kita berpikir bagaimana mengatasinya. Kita berpikir lebih dulu, mencegah, memitigasi—itu lebih baik dan lebih murah. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian, kita harus dekat dengan kalangan kampus. Sebaliknya, akademisi yang jauh dari politisi bisa terjebak dalam angan-angan karena tidak membumi,” jelas Menko AHY.
Selain itu, Menko AHY secara khusus mengapresiasi inovasi Undip dalam mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir.
“Semoga semua hasil riset, termasuk memproses air laut atau air payau dengan desalinasi menjadi air bersih yang siap konsumsi, dapat membantu masyarakat kita. Sekali lagi, tepuk tangan untuk Universitas Diponegoro yang kita banggakan. Saya mengapresiasi tadi Pak Rektor menyampaikan bahwa Undip juga sudah punya karya di muara Demak. Konsepnya hybrid. Nanti kapan-kapan kalau bisa saya lihat, Pak,” ujar Menko AHY.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, menegaskan bahwa Undip merasakan langsung dampak krisis pesisir, sehingga kampus harus konsisten mengembangkan riset dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.






