“Ini soal kepemimpinan, bukan bicara enak atau tidak enak. Persoalan imamah itu sangat penting dalam suatu daerah maupun dalam Islam. Artinya, dari saking gentingnya soal imamah atau kepemimpinan, ini penting untuk dibicarakan,” katanya, Senin (18/1/2021).
Dia mengaku, dirinya tidak memiliki kepentingan terkait pengganti Wabup Raja’e, namun sebagai orang yang pernah mendukung saat pilkada tahun 2018 merasa bertanggungjawab memberikan saran sosok yang dianggap cocok untuk Kabupaten Pamekasan.
“Saya tidak punya kepentingan, cuman saran saya sebagai mantan ketua dan ikut mengawal merasa bertanggung jawab. Karena sejak pemilu tahun 1998 saya berkecimpung, jadi saya paham karakteristik masyarakat Pamekasan,” tandasnya.
Pria yang akrab dengan julukan bupati trotoar ini melanjutkan, sejauh ini ada beberapa sosok figur berasal dari partai politik koalisi saat pilkada lalu muncul ke publik. Baik dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadikan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).






