“Majelis ini tumbuh dari kegelisahan para pemuda yang ingin memperbaiki diri. Kami hanya ingin menjadi tempat hijrah, mencari jati diri, dan belajar berjalan lebih dekat kepada Rasulullah SAW,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa filosofi “Tangga Seribu” menggambarkan perjalanan panjang yang harus dilalui setiap pemuda dalam menghadapi berbagai persimpangan hidup.






