Upaya yang dilakukan SKK Migas tersebut membuahkan hasil sehingga terjadi peningkatan angka TKDN dari 50 persen di 2015 menjadi 58 persen pada pembelanjaan barang/jasa hulu migas per September 2021.
Capaian tersebut di atas target ditetapkan pemerintah sekitar 50 persen pada 2024 dan melebihi target 2021 yang ditetapkan SKK sendiri sebesar 57 persen.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas Erwin Suryadi, menegaskan kembali peranan industri hulu migas yang masih menjadi kontributor utama bagi perekonomian nasional dan daerah.
Keberadaan industri tersebut, katanya, memberikan kontribusi positif bagi pendapatan sejumlah pemerintah daerah melalui dana bagi hasil migas, yang secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
“SKK Migas bersama dengan KKKS mendorong peningkatan peran industri nasional maupun lokal di seluruh pelaksanaan aktivitas industri hulu migas demi pencapaian target TKDN 2022 dan mengejar visi 2030,” ujar Erwin.
Salah satu usaha yang dilakukan SKK Migas, kata Erwin, adalah dengan mempertemukan kedua belah pihak (business match making) untuk memanfaatkan peluang pengadaan barang dan jasa hulu migas.
“SKK Migas akan terus berupaya melaksanakan program kerja yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan tujuan untuk meningkatkan penggunaan barang/jasa dalam negeri di kegiatan hulu migas sesuai dengan amanah pemerintah,” tambahnya.
Selaras dengan hal itu, Kepala Perwakilan SKK Migas Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), berharap Forum Kapasitas Nasional menjadi wadah yang akane mempertemukan para pemangku kepentingan, khususnya dunia usaha, pihak pabrikan, vendor, serta UMKM-UMKM binaan dalam lingkup industri penunjang hulu migas di wilayah Jabanusa.
“Banyak industri hulu migas yang beroperasi di wilayah Jabanusa. Diharapkan akan semakin banyak efek ganda yang dirasakan industri-industri penunjang dan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” kata Nurwahidi.
SKK Migas, katanya, terus melakukan pemetaan potensi-potensi di daerah agar perusahaan lokal dapat turut andil dalam industri hulu migas dan memberikan efek berganda yang lebih luas.
Program Pembinaan SKK Migas dan KKKS bahu-membahu meningkatkan efek berganda pada wilayah operasi hulu migas melalui kewajiban KKKS untuk melakukan pembinaan melalui Vendor Development Program.
Hal ini merupakan upaya memberdayakan perusahaan dalam negeri untuk berkembang dan dapat digunakan oleh KKKS.
Mitra binaan KKKS Medco E&P Indonesia, PT Indal Steel Pipe, berhasil membukukan nilai proyek yang meningkat kurang lebih dua kali lipat berkat pembinaan yang dilakukan SKK Migas dan KKKS.






