Manfaat dari pertanian integratif, tambah Kiai Ilzam, tidak hanya memenuhi kebutuhan makan harian santri. Tidak juga hanya berkaitan dengan investasi para wali santri.
Lebih dari itu, tegas Kiai Ilzam, pertanian integratif menjadikan tanah tidak bergantung pada pupuk kimia. Melalui pemanfaatan pupuk kandang, tanah menjadi subur dan sehat kembali.
“Kita tentu mengakui betapa pupuk kimia membuat tanah rusak, petani juga punya ketergantungan tinggi terhadap pupuk kimia tersebut. Biaya pertanian menjadi membengkak. Pertanian terintegratif membuat petani mandiri, tidak merugi; biaya pertanian mereka juga bisa hemat berlipat-lipat. Pesantren Al Fatih bertekad memberikan teladan kemandirian dan cinta lingkungan hidup lewat pertanian terintegratif,” paparnya.
Langkah-langkah yang ditempuh Kiai Ilzam tersebut, rupanya tidak hanya dilakukan antara Pesantren Al Fatih dengan para wali santri. Namun, Kiai Ilzam berikhtiar kuat pertanian terintegratif juga menjadi tradisi aktif dalam kehidupan warga Nahdliyin.
Karena itulah Kiai Ilzam semangat mengabdi di LPPNU PCNU Pamekasan sebagai ketua. Pada Ahad (18/4) lalu, bertempat di Pesantren Al Fatih, terbentuklah kepengurusan inti LPPNU PCNU Pamekasan.
Pembentukan kepengurusan tersebut dihadiri Pembina LPPNU Habib Amin dan Penasehat LPPNU Kiai Asir yang sekaligus Rektor Universitas Islam Madura. Setelah Kiai Ilzam memberikan penjelasan, para pengurus sepakat dan semangat untuk membumikan pertanian terintegratif.
“Pertanian terintegratif ini, gampangnya ialah antara peternakan dengan pertanian dikolaborasikan. Kotoran hewan yang kita pelihara, dimanfaatkan buat pupuk tanaman. Tanaman yang tumbuh subur, daunnya untuk pakan sapi,” tegasnya.






