Guru Besar UIN Madura Sebut Kurikulum Cinta Dapat Menjinakkan Perundungan, Roasting dan Resistensi

  • Bagikan
KH. Achmad Muhlis Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam, UIN Madura.

PAMEKASAN CHANNEL. Di banyak ruang pendidikan dan pergaulan hari ini, perundungan, resistensi, roasting, dan kacoan kerap hadir sebagai “bahasa sosial” yang dianggap lumrah, ia tampak ringan, kadang dibungkus humor, tetapi menyimpan daya luka yang dalam.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri, ia tumbuh dari relasi kuasa, kebutuhan pengakuan, serta cara individu memaknai diri dan orang lain. Karena itu, mengurainya tidak cukup dengan larangan atau sanksi semata.

“Dibutuhkan perubahan cara pandang, sebuah rekonstruksi etika relasional, yang dalam tradisi Islam dapat dirumuskan melalui kurikulum cinta yakni al-maḥabbah dan al-muwaḥḥid, yang ditopang oleh kepemimpinan profetik,” ujar Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam, KH. Achmad Muhlis, Selasa (5/5/2026).

BACA JUGA :  Alhamdulillah, Guru Honorer di Pamekasan Dapat Insentif Rp 600 Ribu Perbulan

Diterangkan, praktik perundungan dan bentuk-bentuk turunannya bekerja melalui mekanisme simbolik, yakni melalui bahasa, gestur, dan candaan yang menempatkan sebagian orang sebagai subjek dan sebagian lain sebagai objek. Dalam kerangka ini, ejekan bukan sekadar ekspresi spontan, melainkan cara memperoleh posisi dalam struktur sosial.

Mengingat analisis Pierre Bourdieu tentang kekerasan simbolik, ujar Ketua Senat UIN Madura itu, dominasi dapat berlangsung halus, bahkan ketika ia tampak sebagai hiburan. Roasting yang “dianggap biasa” bisa menjadi sarana normalisasi ketimpangan martabat, sementara kacoan yang tidak terarah dapat mengaburkan batas antara keakraban dan pelecehan.

Baca berita lainnya di Google News atau langsung ke halaman Indeks
  • Bagikan