Guru Besar UIN Madura Sebut Kurikulum Cinta Dapat Menjinakkan Perundungan, Roasting dan Resistensi

  • Bagikan
KH. Achmad Muhlis Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam, UIN Madura.

“Sementara Surah Al-Mutoffifin ayat 29–30, menggambarkan perilaku sebagian orang yang menertawakan orang beriman, sebuah potret klasik tentang ejekan sebagai alat superioritas sosial. Kedua rujukan ini menegaskan bahwa praktik mengejek bukan hanya problem budaya kontemporer, tetapi telah lama dikenali dan dikritik oleh wahyu,” urai Kiai Muhlis.

Kiai Muhlis mengungkap fakta sejarah betapa Nabi Muhammad SAW memperkuat fondasi ini melalui hadis tentang kasih sayang: “Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda bahwa orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Pesan ini menggeser orientasi relasi dari kompetisi menuju empati. Jika cinta menjadi ukuran iman, maka merendahkan orang lain tidak hanya keliru secara sosial, tetapi juga mereduksi kualitas keberagamaan itu sendiri.

“Namun nilai tidak akan efektif tanpa keteladanan. Di sinilah kepemimpinan profetik menjadi penopang yang menentukan. Kepemimpinan profetik bukan sekadar otoritas struktural, tetapi integritas moral yang hidup dalam tindakan sehari-hari, ia bekerja melalui moral contagion, penularan nilai melalui contoh nyata. Ketika guru, pengasuh, atau pemimpin komunitas menunjukkan empati dalam bercanda, keadilan dalam menegur, dan kebijaksanaan dalam merespons resistensi, maka batas antara humor dan penghinaan menjadi jelas. Sebaliknya, jika figur otoritas sendiri permisif terhadap ejekan, maka norma akan runtuh dari dalam,” jelasnya.

BACA JUGA :  Menteri ATR/Kepala BPN Silaturahmi dengan Ketua Umum Muhammadiyah

Dalam praktiknya, pendekatan ini tidak menghapus humor atau perbedaan pendapat, tetapi menata ulang orientasinya. Roasting dapat bergeser menjadi humor reflektif yang tidak merendahkan; resistensi dapat diolah menjadi dialog kritis yang menghormati; kacoan dapat diarahkan menjadi kreativitas yang membangun. Perubahan ini lahir dari pembiasaan, bahasa yang santun, ruang aman untuk berekspresi, serta konsistensi teladan dari para pemimpin.

BACA JUGA :  Santri Ponpes Mansayul Ulum Congkop Juara Festival Dunia Arab

Mengurangi perundungan dan bentuk-bentuk turunannya bukan hanya soal mengendalikan perilaku, tetapi membangun kesadaran. Kurikulum cinta yakni al-maḥabbah dan al-muwaḥḥid, memberi arah batin, sementara kepemimpinan profetik memastikan nilai itu hidup dalam realitas. Ketika kasih sayang menjadi bahasa bersama, dan tauhid menjadi kesadaran kolektif, maka relasi sosial tidak lagi didorong oleh dominasi, tetapi oleh penghormatan.

Baca berita lainnya di Google News atau langsung ke halaman Indeks
  • Bagikan