Guru Besar UIN Madura Sebut Kurikulum Cinta Dapat Menjinakkan Perundungan, Roasting dan Resistensi

  • Bagikan
KH. Achmad Muhlis Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam, UIN Madura.

Menurut Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning itu, perilaku tersebut sering berakar pada kebutuhan akan pengakuan, rasa tidak aman, atau pengalaman luka yang belum pulih. Ejekan menjadi mekanisme pertahanan, cara cepat untuk merasa “lebih” dengan membuat orang lain “kurang”. Tanpa ruang aman yang memberi penerimaan, individu mudah mencari validasi melalui dominasi simbolik.

“Di titik inilah kurikulum cinta bekerja, bukan sekadar mengajarkan norma, tetapi membentuk pengalaman batin yang mengubah cara seseorang memandang diri dan sesamanya,” kata Pengurus PCNU Kabupaten Pamekasan itu.

Dijelaskan, al-maḥabbah sebagai inti kurikulum cinta menempatkan kasih sayang sebagai prinsip pembelajaran, ia bukan sekadar emosi, melainkan orientasi relasional yang memandang setiap manusia sebagai subjek bermartabat. Dalam perspektif Carl Rogers, penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) melahirkan rasa aman psikologis. Ketika individu merasa diterima, dorongan untuk merendahkan orang lain berkurang secara signifikan, ia tidak perlu lagi “menang” melalui ejekan, karena harga dirinya tidak bergantung pada pengakuan eksternal.

BACA JUGA :  IAIN Madura Buka Rangkaian Harlah ke-56 dengan Basar UKM dan Bursa Kerja

Sementara itu, al-muwaḥḥid (kesadaran ketauhidan), memberi fondasi transendental bagi etika sosial. Kesadaran bahwa semua manusia berada dalam satu kesatuan ciptaan Tuhan menumbuhkan rasa persaudaraan dan tanggung jawab moral. Dalam kerangka ini, merendahkan orang lain bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi juga pelanggaran terhadap kesadaran tauhid, ia merusak relasi horizontal sekaligus vertikal. Kurikulum cinta yang memadukan al-maḥabbah dan al-muwaḥḥid dengan demikian tidak hanya menyentuh aspek sosial, tetapi juga spiritual dan psikologis secara simultan.

BACA JUGA :  Sediakan Ruang Kreatif untuk Mahasiswa, IAIN Madura Luncurkan IMTV

Landasan normatifnya jelas tercermin dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12, umat diingatkan agar tidak saling merendahkan, mencela, memberi julukan buruk, berprasangka, memata-matai, dan menggunjing. Larangan ini bukan sekadar etika sosial, tetapi perlindungan terhadap martabat manusia, ia menutup pintu-pintu kecil yang sering menjadi awal dari kekerasan simbolik.

Baca berita lainnya di Google News atau langsung ke halaman Indeks
  • Bagikan