PAMEKASAN CHANNEL. Beredar sebuah surat terbuka dikeluarkan oleh Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) ditujukan kepada Hendarko Novriansiroen, seorang tokoh etnis Papua di Yogyakarta.
Surat terbuka dari Keluarga Madura Yogyakarta ini mendadak viral dan menimbulkan perdebatan hangat di tengah-tengah masyarakat.
Surat terbuka ini mengupas beberapa insiden yang diduga melibatkan kelompok etnis Papua yang bertindak brutal kepada toko-toko kelontong milik warga Madura di Yogyakarta.
Pesan dalam surat tersebut, komunitas Madura Yogyakarta menuntut adanya solusi konkret untuk mencegah insiden brutal terus menerus berulang.
Dalam surat terbuka ini terdapat pernyataan yang secara terbuka dari Keluarga Madura Yogyakarta menantang “CAROK” secara terbuka kepada Etnis Papua, bila tak ada penyelesaian dari tindakan brutal tersebut.
Diketahui, Carok dalam budaya Madura adalah istilah yang merujuk pada duel terbuka sebagai bentuk penyelesaian konflik yang dianggap serius, dan menyingung harkat dan martabat serta harga diri.
Surat terbuka ini ditandatangani oleh Ketua RB. Jucil Adiningrat, S.H dan Sekretaris M. Fahri Hasyim, S.H., M.H yang bertuliskan;
“Kami, Keluarga Madura Yogyakarta, telah cukup bersabar menghadapi tindakan perusakan dan kekerasan yang berulang terhadap toko-toko saudara kami. Kami meminta perwakilan komunitas Papua untuk memberikan solusi konkret agar insiden ini tidak terulang. Jika tidak ada kesepahaman yang bisa dicapai, kami siap mempertahankan harga diri kami dengan cara kami sendiri.”tulis dalam surat terbuka tersebut.
Surat terbuka dari Keluarga Madura Yogyakarta kepada tokoh Papua, Hendarko Novriansiroen, telah mengundang perhatian publik dan menimbulkan berbagai tanggapan.
Dengan demikian, aparat kepolisian, TNI-Polri diharapkan segera menjembatani pertemuan antara perwakilan komunitas Madura dan Papua untuk mencari titik tengah untuk menemukan perdamaian dan tak ada pertumpahan darah.






