Salah satu masalah utama generasi muda hari ini adalah kecenderungan hidup konsumtif. Dorongan media sosial membuat banyak orang berlomba-lomba mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kondisi finansial pribadi. Tanpa bekal literasi keuangan, mereka mudah terjebak pada perilaku boros, cicilan yang menumpuk, dan akhirnya kesulitan ekonomi. Di sinilah pentingnya pendidikan finansial formal: untuk membangun kesadaran kritis bahwa gaya hidup tidak boleh mengorbankan masa depan.
Selain itu, pendidikan tentang uang juga bisa menjadi strategi nasional dalam mengurangi ketimpangan ekonomi. Bayangkan jika seluruh siswa Indonesia diajarkan cara menabung dan berinvestasi sejak SMP. Dalam 10–20 tahun ke depan, mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja yang mampu mengelola modal dengan baik. Hal ini akan menciptakan masyarakat yang lebih mandiri secara finansial, mengurangi pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa.
Kurikulum tentang uang tidak perlu dibuat kaku. Materinya bisa dikemas dengan pendekatan yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa bisa diajak simulasi mengelola uang jajan, membuat proyek usaha kecil di sekolah, atau mengikuti kompetisi literasi keuangan. Dengan metode seperti itu, mereka tidak hanya mengerti teori, tetapi juga terbiasa mempraktikkan langsung keterampilan finansial.






