“Ya ada cas back umumnya 10 sampai 20 persen. Untuk kasus di Pamekasan ini kami duga cas back-nya juga mengalir ke Kementerian Kesehatan selaku pihak yang menunjuk juga RSUD Slamet Martodirdjo sebagai rumah sakit rujukan pelayanan jantung se-Madura,” katanya.
Selain soal Cashback, FKMS juga menduga bahwasanya harga MOT-HVAC untuk Layanan Penyakit Jantung RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo tersebut terlalu tinggi.
“Kami lihat harganya cuma turun sekitar Rp 25 juta dari pagu. Dan kami kira harga MOT-HVAC harusnya sekitar Rp 12 miliar, bukan Rp 16 miliar. Sesuai hitungan kasar Rp 12 miliar lebih itu sudah termasuk pajak PPN, pajak PPN, pajak impor, fee marketing dan pelatihan pengoperasionalan, sosialisasi, keuntungan perusahaan, importir dan asuransi,” sebutnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris FKMS M. Yusuf menyebut bila alat kesehatan MOT-HVAC untuk Layanan Penyakit Jantung RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo ber-merk Philips yang dibeli dari PT Aneka Medika Indonesia.
“Memang PT Andika Medika reseller Philips. Kasus pengadaan Alkes untuk di RSUD Slamet Martodirdjo ini harus diusut. Belum beroperasinya Program Layanan Penyakit Jantung itu sudah menimbulkan kerugian negara. Setahu kami, pengadaan MOT-HVAC tahun 2023 itu berasal dari dana APBN yang di alokasikan ke APBD Kabupaten Pamekasan yang kemudian di masukkan ke dalam anggaran BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) RSUD Slamet Martodirdjo,” paparnya.
Seperti diketahui, Program Layanan Penyakit Jantung RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo, Kabupaten Pamekasan hingga hari ini belum bisa dioperasikan. Padahal, Layanan Penyakit Jantung tersebut harusnya sudah beroperasi di awal tahun 2024.






