TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pasien Meninggal, Keluarga Korban Laporkan RS Larasati ke DPRD Pamekasan

  • Bagikan
Rumah Sakit (RS) Larasati dilaporkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan. Kamis (18/08/2022).

PAMEKASAN. Rumah Sakit (RS) Larasati dilaporkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan. Kamis (18/08/2022).

Laporan itu dilakukan oleh Zahiruddin asal Desa Palengaan Laok kabupaten Pamekasan pasca istrinya Zaitun meninggal dunia setelah di operasi di rumah sakit tersebut.

Laporan itu berkaitan dengan dugaan RS Larasati dalam memberikan layanan kesehatan yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Zahiruddin suami dari pasien itu menceritakan bahwa setelah istrinya, melahirkan melalui tindakan operasi, nyawanya tidak tertolong.

BACA JUGA :  Polres Pamekasan Buka Gerai Vaksinasi di Desa Blumbungan

Diakuinya, Setelah istrinya melahirkan, perawatnya tidak memberi tau tentang kondisi. Bahkan saat ditanyakan, perawat merespon bahwa pasien masih ditangani oleh dokter. Baru setelah magrib, ia dipanggil dan mengetahui istrinya sudah dibantu dengan alat.

“Ternyata istri saya sudah sudah dibantu alat. Saya masih bertanya-tanya, kok tidak diberi tahu sedari awal kejadian,” katanya saat didampingi kuasa hukumnya Abd Kholis di kantor DPRD Pamekasan.

BACA JUGA :  Antisipasi Bencana, Bupati Pamekasan Tekankan Delapan Pesan Penting

Zahir menyebutkan, sampai saat ini, penyebab kematian istrinya masih belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak rumah sakit. Bahkan, saat jenazah diantarkan mengaku tidak ada surat serah terima.

Selain itu, pembiayaan ada perubahan yang sangat tinggi. Sebelumnya, RS Larasati mematok harga 13 juta saat hendak membawa pulang bayinya. Namun angka tersebut berubah menjadi Rp. 1.923.000.

BACA JUGA :  Polres Pamekasan Gelar Vaksinasi di Ponpes Al Bustan Palengaan

Ketua DPRD Pamekasan Halili akan segera melakukan pemanggilan kepada semua pihak. Terutama kepada pihak Larasati. Tujuannya untuk mendapatkan solusi yang solutif terhadap perbaikan layanan kesehatan.

Kendatipun meninggalnya seseorang merupakan takdir, namun proses layanan kesehatan perlu diperbaiki, supaya tidak ada pasien lain yang mengalami kejadian serupa seperti yang dialami Zaitun.

Baca berita lainnya di Google News atau langsung ke halaman Indeks
  • Bagikan